Cerita Motivasi Perjalanan Mencari Ilmu

Sebelum memulai cerita saya, perkenalkan nama saya Febriana Cahyaningrum dari jurusan Komputer Akuntansi-D3. Orang orang biasa memanggil saya dengan Riana. Saya berumur tepat 19 tahun pada 25 Februari kemarin.

Saya di sini ingin sedikit berbagi tentang perjalanan saya dalam mencari ilmu.

Cerita saya di mulai dari saya kecil. Di mana saya dikenal dengan sebutan "Kecil kecil cabe rawit", walaupun berbadan kecil namun memiliki otak yang bisa dibilang cerdas. Dulu sewaktu SD, saya bersekolah di salah satu desa yang ada di Sukoharjo, Solo. Hingga pada waktu saya duduk di kelas 5 SD, saya serta keluarga berpindah tempat tinggal di Semarang termasuk sekolah saya.

Sebelum saya masuk ke sekolah baru yang tidak bisa saya sebutkan nama sekolah di sini, saya sangat bersemangat karena akan mendapatkan teman baru. Awal saya masuk, saya mendapat sambutan hangat baik dari teman teman maupun guru karena bisa dibilang saya sangat sulit untuk beradaptasi dengan hal hal baru. Namun lambat laun sikap teman teman saya perlahan berubah. Mereka mulai melakukan sesuatu dan mengucapkan sesuatu yang tidak pantas karena mereka iri terhadap saya yang mendapatkan perhatian banyak guru dan menganggap saya hanyalah anak dari desa yang sok kekotaan.

Hal itu membuat saya takut untuk berangkat sekolah, berbagai macam alasan saya gunakan agar tidak masuk sekolah. Hingga pada suatu hari, ada seorang teman yang menyebut saya sebagai "Anak pembawa sial". Hal tersebut saya adukan ke keluarga dan keesokannya orangtua saya datang ke sekolah untuk meluruskan hal ini. Masalah sudah selesai, namun mereka masih sedikit memperlakukan saya seperti sebelumnya walaupun sedikit berkurang.

Pada ujian semester, saya kembali meraih peringkat 1 sama seperti ketika saya sekolah di desa. Saya berhasil membuktikan bahwa walaupun saya berasal dari desa namun bukan berarti bisa direndahkan begitu saja. Dan ketika ujian nasional kelas 6 selesai, saya berhasil mendapat juara 1 dari 2 kelas yang ada. Saya bisa membanggakan kedua orang tua saya serta kakak saya.

Ketika saya beranjak SMP, saya mendapatkan teman teman yang tulus mau berteman dengan saya. Tanpa memandang fisik ataupun kepintaran saya. Namun ketika duduk di kelas 7, saya berulang kali sering tidak berangkat ke sekolah karena sakit ataupun ada urusan mengakibatkan saya tertinggal banyak pelajaran. Syukur Alhamdulillah saya kembali mendapatkan peringkat ranking 1 dan hal ini berlanjut hingga kelas 8 dan kelas 9.

      

Kita beralih cerita di mana saya sudah duduk di bangku SMK. Awalnya saya ingin bersekolah di salah satu SMA Negeri favorit di Semarang, namun akibat sistem zonasi yang ada mengakibatkan saya tidak bisa bersekolah di tempat yang saya inginkan dan saya dipilihkan sekolah oleh keluarga saya di salah satu SMK Swasta dekat tempat tinggal saya.

Ada cerita lucu di sini ketika saya berada di perjalanan pulang sekolah setelah masa masa MPLS kelas 10. Karena terik matahari yang menyilaukan mata pada saat itu membuat saya berjalan kaki dengan kepala sedikit menunduk dan tiba tiba kepala saya terbentur oleh pagar beton. Saya berhenti sejenak untuk menghalau rasa pusing yang datang. Setelah hilang, saya kembali berjalan menuju ke rumah. Namun sepanjang perjalanan banyak pengendara motor yang melihat ke arah saya. Saya sedikit bingung ada apakah gerangan dan ketika saya melihat kaca jendela salah satu rumah barulah saya menyadari jika kepala saya berdarah. Bisa terlihat jelas karena saya memakai jilbab putih, itulah kenapa orang orang sedari tadi melihat ke arah saya. Sedikit memalukan memang namun juga menggelikan.

Oke mari kita kembali ke cerita awal. Di ujian semester kelas 10, saya lagi lagi mendapatkan peringkat 1 dan kembali membanggakan keluarga saya. Waktu berlalu saya naik ke kelas 11,di mana saat itu covid melanda dan membuat saya daring/belajar dari rumah. Di kelas 11 ini ranking saya turun drastis yang membuat saya terheran, mengapa itu bisa terjadi? Namun saya berpikir mungkin ini faktor dari belajar daring.

Di saat libur lebaran, saya mudik ke kampung halaman tempat tinggal saya dulu. Ketika bersilaturahmi ke sanak saudara, banyak yang bertanya kepada saya setelah lulus saya akan melanjutkan kuliah atau bekerja. Dalam lubuk hati saya, saya benar benar ingin ingin kuliah. Bahkan saya sudah memilih universitas mana yang akan saya pilih, namun ketika saya hendak menjawab pertanyaan pertanyaan tersebut, orangtua saya lebih dulu menjawab dengan mengatakan saya akan bekerja terlebih dahulu. Saya benar benar hancur saat itu, impian saya dipatahkan oleh orangtua saya sendiri. Butuh waktu lama hingga akhirnya saya benar benar melepas keinginan saya untuk berhenti berharap bisa kuliah. Saya harus bekerja demi membantu ekonomi keluarga. Setiap di sekolah membahas perihal kuliah, saya akan merasa bad mood sekaligus sedih dengan sendirinya.

Akhirnya saya duduk di kelas 12, tingkat akhir. Ketika waktu ulangan semester, sehari sebelumnya saya mengirim pesan ke salah satu guru yang mengajar saya untuk menyita seluruh hp para siswa sebelum mengerjakan ulangan agar tidak ada yang searching di internet. Saya ingin semuanya bersaing secara sehat tanpa kekurangan sedikitpun. Guru saya mengiyakan, namun hari ujian tiba tidak ada tindakan apapun, teman teman saya tetap beran mengeluarkan hp untuk membuka internet mengakibatkan hasil raport saya kembali turun walaupun masih termasuk di peringkat 10 besar.

Hari dimana ujian masuk perguruan tinggi tiba. Saya tidak ikut serta karena saya sudah mengikhlaskan mimpi saya dan memilih untuk bekerja. Namun malamnya orangtua saya menyalahkan saya karena tidak ikut ujian tersebut. Saya benar benar ingin menangis saat itu juga, mereka yang sudah mematahkannya namun mereka juga yang menyalahkan saya. Usai hal itu terjadi, saya terpilih oleh pihak sekolah untuk mewakili sekolah dalam sebuah ajang perlombaan akuntansi tingkat SMK se kabupaten dan Alhamdulillah saya berhasil membawa piala dengan predikat juara 2. Saya tidak hanya membanggakan keluarga saya, namun juga membanggakan nama sekolah.

Ketika penyerahan piala ke pihak sekolah, mereka menjanjikan akan memberi predikat lulusan terbaik ketika acara wisuda dan memberikan saya sebuah hadiah. Namun tepat di hari wisuda, hal itu tidak terjadi. Predikat tersebut diberikan kepada siswa lain. Saya kembali dipatahkan oleh orang orang di sekitar saya.

Setelah saya wisuda, saya mulai bekerja di sebuah percetakan besar di Semarang. Awal awal saya sedikit tertekan dengan keadaan. Mulai dari partner kerja, jam kerja, customer ataupun hal lainnya. Namun saya berusaha kuat untuk menghadapi semuanya demi keluarga saya. Bahkan saya juga sempat mengalami kecelakaan pada bulan Agustus tahun lalu di mana saya mengalami patah tulang di bagian bahu kanan mengakibatkan saya harus memakai penyangga tangan. Akibatnya saya harus beraktivitas dan bekerja dengan hanya mengandalkan tangan kiri. Satu bulan penuh saya lalui.

Setelah kejadian itu, terbesit di benak saya untuk mengejar impian saya kembali, yaitu kuliah. Saya mencari informasi informasi di berbagai platform mengenai universitas yang terdapat sistem karyawan dan bisa menyesuaikan jam kerja saya. Awalnya saya meminta izin kepada keluarga untuk melanjutkan pendidikan walaupun sedikit berat mereka tetap mengizinkan asalkan biaya ditanggung sendiri oleh saya. Keluarga saya hanya bisa membantu sedikit, saya mengiyakannya dan mendaftar di universitas stekom ini.

Impian saya benar benar bisa terwujud berkat dukungan dari banyak pihak. Mulai dari diri saya sendiri, keluarga, teman teman dan dari laki laki yang menjalin hubungan dengan saya sejak 2021. Dia pernah mengatakan sesuatu yang akan selalu saya ingat sampai kapanpun, "Riana udah lakuin yang terbaik. Riana selalu jadi gadis baiknya kakak. Ngga boleh marah sama keluarga ya, kakak kan selalu pesen itu. Riana pengen bahagiain mereka kan? Semangat ya"

Namun pada akhir 2021 saya mengetahui bahwa dia mengidap penyakit kanker yang mengharuskan dia berobat di luar negeri. Dan pada Februari 2023 kemarin, tepatnya 1 hari setelah dia berulang tahun dan 2 hari sebelum ulang tahun saya, dirinya memilih menyerah berjuang akan penyakitnya. Operasi dan pengobatan nya gagal, dirinya kembali berpulang ke pangkuan yang maha kuasa. Saya benar benar hancur dan sedih saat itu. Selama beberapa hari, saya selalu memilih pulang kerja sedikit terlambat untuk sekedar mencari teman berbicara. Karena ketika saya di rumah, saya akan merasa kesepian dan mulai menangis lagi.

Namun sekarang saya mulai mengikhlaskan kepergiannya dan kembali bangkit menjadi Riana yang kuat. Seperti apa yang dia bilang, saya ingin membanggakan keluarga saya, teman teman saya serta dia yang selalu mendukung saya yang mungkin sampai saat ini masih mendukung saya dari atas sana. Saya bisa mewujudkan impian saya untuk kuliah, melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi walaupun melalui berbagai macam rintangan.

Saya harap cerita ini bisa menginspirasi untuk kalian yang membaca cerita ini untuk tidak menyerah dalam suatu keadaan. Setiap kesulitan pasti ada jalan keluarnya, asalkan kita mau berusaha. Terimakasih atas perhatiannya dan semangat untuk kita semua.



Hello!

Click one of our representatives below to chat on WhatsApp or send us an email to info@stekom.ac.id

Support Syawaludin Subekti
6281215484296
Support Eko Haryono
6285540431346
Hello! Ada yang bisa saya bantu?
×
Hubungi kami ? 950